Kerontokan pada rambut bisa terjadi pada siapa saja dan jika hal ini terjadi bisa menimbulkan kekhawatiran akan memicu terjadinya kebotakan jika tidak ditangani dengan baik. Banyak sekali penyebab terjadinya kerontokan pada rambut bisa karena faktor keturunan, perubahan hormon, kekurangan nutrisi , penggunaan produk rambut yang tidak cocok atau karena kondisi medis tertentu, bisa juga karena proses penuaan atau akibat dari pengobatan yang sedang dijalani.
Salah satu terapi dari kerontokan adalah pemberian minoxidil baik secara topikal ataupun secara oral. Minoxidil kerap digunakan dalam kasus kerontokan atau kebotakan pada rambut. Umumnya minoxidil digunakan secara topikal dalam sediaan 2% dan 5%. Seiring berkembangnya penelitian, minoxidil secara oral juga diduga bermanfaat dalam menangani alopecia.
Awalnya minoxidil dikenalkan sebagai obat oral antihipertensi dan pada akhirnya ditemukan efek samping hipertrikosis atau pertumbuhan rambut yang berlebihan sehingga dikembangkanlah formulasi topikal minoxidil untuk merangsang pertumbuhan rambut. Pertama kali diluncurkan sediaan topikal minoxidil 2% pada tahun 1986 diikuti dengan sediaan 5% pada tahun 1993.
Minoxidil bekerja sebagai vasodilator dari arteriol, meningkatkan sintesis dna dan proliferasi sel dan pada rambut efeknya merangsang pertumbuhan rambut dan mengurangi kerontokan rambut.
Minoxidil mempengaruhi fase pertumbuhan rambut , dimana memperpendek fase telogen dan menyebabkan masuk lebih awal ke fase anagen , sehingga pada 10-15% pasien yang memakai minoxidil pada 4-6 minggu pertama biasanya akan mengalami kerontokan. Dan fase anagen menjadi lebih panjang sehingga rambut akan tampak lebih baik dari pertumbuhan panjang dan diameternya.
Minoxidil topikal juga sudah disetujui oleh FDA sebagai bagian treatment untuk kasus alopecia androgenata. Meskipun demikian bisa juga digunakan pada kasus kerontokan lainnya seperti alopecia areata, alopecia karena scar, telogen effluvium dimana akan memperbaiki pertumbuhan rambut termasuk di area lain seperti di alis dan janggut. Efek samping yang mungkin timbul pada pemakaian minoxidil antara lain iritasi kulit, dermatitis, sakit kepala dan hipertrikosis yang biasanya lebih banyak terjadi pada pemberian topikal minoxidil 5%.
Namun dari penelitian dengan pemberian minoxidil topikal dengan konsentrasi yang lebih besar didapatkan presentasi hasil yang lebih besar juga. Namun dosis dan cara pemakaian disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Pada kasus alopecia androgenata pemakaian minoxidil ini harus dilanjutkan tanpa batas waktu, karena jika dihentikan bisa terjadi kerontokan kembali pada rambut dala waktu 3-4 bulan kemudian. Adapun pada ibu hamil dan menyusui sebaiknya dihindari untuk tidak menggunakan minoxidil terlebih dahulu.