“Kalau antibiotiknya cocok, kenapa tidak diteruskan saja?”
Ini adalah pertanyaan yang sering muncul di klinik. Banyak pasien merasa jerawat membaik saat minum antibiotik, tetapi begitu obat dihentikan, jerawat muncul kembali. Akibatnya, sebagian orang terus mengonsumsi antibiotik dalam jangka waktu yang lama. Padahal, pendekatan ini sudah mulai ditinggalkan dalam dunia dermatologi.
Bahaya Penggunaan Antibiotik Jangka Panjang
Antibiotik yang banyak dipakai dalam kasus jerawat bekerja dengan dua cara, yaitu mengurangi jumlah bakteri yang berperan dalam acne dan meredakan peradangan pada kulit.
Oleh sebab itulah lesi inflamasi seperti papul (bintil merah) dan pustul (bintil bernanah) sering membaik cukup cepat dengan penggunaan antibotik.
Namun, penggunaan antibiotik dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan masalah resistensi. Inilah alasan utama mengapa dokter sekarang jauh lebih berhati-hati. Bakteri dapat beradaptasi terhadap antibiotik yang digunakan terus-menerus. Akibatnya obat yang sebelumnya efektif menjadi semakin kurang efektif. Penelitian tahun 2022 menunjukkan bahwa resistensi terhadap antibiotik, terutama golongan makrolida, sudah menjadi masalah yang luas pada pasien acne. Hal ini dapat membuat jerawat menjadi lebih sulit ditangani.
Yang lebih mengkhawatirkan, resistensi tidak hanya memengaruhi bakteri penyebab jerawat. Penggunaan antibiotik jangka panjang juga dapat mengubah mikrobioma (kumpulan mikroorganisme alami) di kulit dan saluran cerna. Kulit kita dihuni oleh miliaran mikroorganisme yang hidup berdampingan dalam keseimbangan. Penggunaan antibiotik yang terlalu lama dapat mengubah komposisi mikrobioma tersebut. Akibatnya kulit menjadi lebih mudah mengalami peradangan, pertahanan alami kulit terganggu, iritasi dan kekambuhan juga lebih mudah terjadi.
Mikrobioma di usus juga bisa mengalami gangguan, yaitu matinya bakteri baik dan berisiko mengalami gangguan pencernaan. Antibiotik jangka panjang juga dapat menyebabkan munculnya bakteri yang resisten di saluran cerna atau bagian tubuh lain. Sehingga jika di masa depan ketika antibiotik benar-benar dibutuhkan untuk mengobati infeksi tertentu, efektivitasnya bisa berkurang.
Jadi Berapa Lama Antibiotik Boleh Dipakai?
Sebagian besar panduan tata laksana acne menganjurkan agar penggunaan antibiotik dibatasi maksimal 12 – 16 minggu dengan evaluasi respons di 6 – 8 minggu pertama. Penggunaan antibiotik juga dilarang sebagai pengobatan tunggal karena semakin meningkatkan risiko terjadi resistensi. Oleh karena itu biasanya penggunaan antibiotik oral akan dikombinasikan dengan terapi topikal berupa benzoyl peroxide, retinoid topikal, atau azaleic acid.
Kalau Jerawatnya Berat, Apa Pilihan Selain Antibiotik?
Inilah perubahan besar dalam terapi acne modern. Dulu, pilihan untuk jerawat sedang hingga berat seringkali hanya berupa antibiotik jangka panjang dan isotretinoin (tidak disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia). Sekarang sudah tersedia terapi berbasis energi yang menargetkan kelenjar sebasea (kelenjar minyak) secara langsung. Pada tahun 2022, Food and Drug Administration (FDA) menyetujui AviClear, perangkat energi pertama yang secara khusus disetujui untuk terapi acne ringan hingga berat. Cara kerjanya berbeda dengan laser konvensional. AviClear menggunakan panjang gelombang 1726 nm yang secara selektif menargetkan kelenjar sebasea sehingga produksi minyak dapat berkurang tanpa merusak permukaan kulit secara signifikan. Dalam studi awal, banyak pasien mengalami penurunan jumlan acne setelah rangkaian tiga sesi terapi. Laser ini tidak dapat menggantikan semua obat jerawat, namun munculnya teknologi seperti AviClear menunjukkan bahwa pengobatan acne mulai bergerak menuju terapi yang lebih terarah dan tidak bergantung pada antibiotik jangka panjang atau obat oral lainnya. Treatment AviClear sudah tersedia di klinik Bmderma sejak Juni 2026.
Jika Anda masih menggunakan antibiotik jerawat jangka panjang atau sering berulang menggunakan antibiotik oral setiap kali jerawat kembali kambuh, mungkin sudah saatnya berdiskusi dengan tim dokter kami di Bmderma. Tujuan kami bukan sekadar membuat jerawat hilang sementara, tetapi mengontrol penyakit jangka panjang, meminimalisasi risiko bekas jerawat, dan mengurangi risiko resistensi antibiotik dengan cara memilihkan terapi yang paling sesuai dengan kebutuhan kulit Anda.